Dibikin Kecewa, Pengalaman Pertama Kali Nonton Timnas di GBK

Pengalaman Nonton Timnas di GBK


Main di Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan mengenakan seragam garuda di dada tentu menjadi impian bagi setiap pemain bola. Termasuk gue dulu. Dulu gue bermimpi buat jadi pemain Timnas Indonesia. Sayangnya mimpi tersebut harus tergerus idealisme gue yang lebih mengutamakan materi. Hasilnya gue lebih memilih pekerjaan yang pasti-pasti aja, yaitu jadi PNS.

Karena hal itu juga, ketika dateng ke GBK gue hanya bisa duduk di bangku penonton. Tak apa, sudah gue relakan. Semua orang punya rezekinya masing-masing. Betul tidak?

Kali ini, 5 September 2019 gue punya kesempatan buat nontonin Timnas Indonesia vs Malaysia di ajang Kualifikasi Piala Dunia. Ini merupakan kesempatan pertama gue nonton timnas di GBK. Gue nonton nggak sendirian, bareng sama temen-temen kerja gue. Dan mungkin, kalau bukan karena mereka yang ngajak, gue nggak bakalan nonton.

Gue dan temen-temen gue beli tiket di Kategori 1, harganya 350 ribu. Emang harga tersebut terbilang mahal buat gue, tapi nggak apa, demi pengalaman pertama yang mengesankan. Dengan biaya tersebut ternyata gue dikasih merchandise juga. Lumayan lah buat kenang-kenangan.

Merchandise yang di dapatkan untuk kategori 1 GBK


Gue sadar kalau Jakarta sudah pasti macet di sore hari, apalagi ada event Timnas kaya gini. Oleh sebab itu gue dan temen-temen punya rencana berangkat naik MRT. Tetapi karena pulang dari kantor mepet banget dan tidak memungkinkan buat naik MRT, akhirnya kita memutuskan buat naik taksi online aja.

Benar banget dugaan gue. Rute yang gue lalui dari Rawamangun menuju GBK macet parah. Gue berangkat jam enam sore, dan sampai GBK sekitar pukul tujuh duapuluhan. Dan itu mepet banget sama kick offnya (19.30).

Gue dan temen-temen gue langsung berlari-larian buat masuk ke GBK lewat pintu yang sudah tercantum di Tiket. Dan di situ antrian udah rame banget, ribuan orang ada di GBK. Its so fantastic for me.

Suasana Antrian Masuk GBK
Suasana antrian masuk ke stadion

Saat masih mengantri di luar stadion, terdengar musik instrumental lagu kebangsaan Indonesia Raya dan juga suara para suporter. Seketika itu juga gue merinding. Setelah gue berhasil masuk, gue seneng banget karena lagu tersebut belum selesai. Masih tersisa beberapa bait lagi.

Dengan penuh rasa bangga, gue mengambil sikap berdiri sempurna seraya mengumandangkan sisa lagu. Merinding banget, asli.

"Rasanya nyanyi lagu Indonesia Raya bareng sama puluhan ribu orang ternyata begini ya" kata gue dalam hati. Gue aja yang ada di bangku penonton merinding, gimana pemainnya ya? Mungkin itu juga yang menyebabkan beberapa pemain Timnas nangis terharu ketika sesi menyanyikan lagu kebangsaan.

Kick off dimulai, teriakan yel-yel suporter semakin menjadi-jadi. Mungkin hampir semua penonton teriak-teriak selain gue. Bukan karena gue malas nyanyi, tetapi memang niat gue buat dateng itu ya buat nonton permainan timnas. Nonton cara mereka bermain itu gimana. Dih, sok sokan jadi pengamat ya :D

Teriakan para suporter semakin pecah di menit 12. Beto berhasil ngegolin ke gawang Malaysia.  Kali ini gue ikut teriak, terbawa suasana kegembiraan. Dan singkat cerita pertandingan berakhir dengan kekalahan Indonesia, skor akhir yaitu 2-3.

Suasana kemeriahan penonton di GBK


Gue ngerasa kecewa pada pertandingan tersebut. Perkara timnas kalah itu bukan faktor utama kekecewaan gue. Gue kecewa sama tingkah "onar" oknum suporter. Dipercaya menjadi tuan rumah di ajang ini itu merupakan kehormatan, tetapi hal tersebut rusak sudah di laga perdana.

Gue sempet lihat dari akun Plesbol di Line, ada postingan video sebelum laga dimana ada sedikit kericuhan antara suporter Malaysia dan Indonesia di luar stadion. Entah, gue juga nggak tahu sebabnya kenapa. Dan kericuhan tersebut juga masuk ke dalam stadion.

Para suporter Malaysia diberi slot pada salah satu bagian tribun tersendiri. Mungkin biar menghindari kericuhan kali yak. Biar aman juga bagi mereka. Tapi kenyataannya tetep aja ribut.



Tindakan tidak baik dari suporter Indonesia di dalam stadion sudah dimulai sejak istirahat babak pertama. Kalau nggak salah kejadiannya suporter Malaysia dilempari botol minuman (kalau nggak salah ya). Dan polisi juga sudah sempat mengkondisikan kejadian tersebut.

Kejadian kurang mengenakan berlanjut di sepanjang pertandingan. Ada oknum suporter yang mencoba memprovokasi suporter Malaysia. Tapi yang gue lihat, mereka nggak terpancing. Mungkin takut juga kali yak, kalau sampai terpancing dan rusuh, mereka bakalan dikeroyok. Jumlah mereka juga cuma sedikit.

Sampai akhirnya kericuhan tersebut pecah di pertengahan babak kedua. Pertandingan sempat dihentikan. Entah apa sebabnya, gue kurang begitu memperhatikan. Tapi kejadian yang gue tangkap adalah ketika ada seorang suporter Indonesia berlari menuju tempat suporter Malaysia untuk mengambil bendera mereka. Dan hal itu berhasil. Bendera sukses diambil dan kelanjutannya digimanain gue nggak tahu. Pecahlah kericuhan itu di momen tersebut.

Oke, pertandingan selesai. Tapi kericuhan belum selesai. Kali ini kericuhan terjadi antara aparat dengan suporter. Waktu itu, aparat sedang mengawal seseorang yang sedang ditandu untuk dibawa ke ambulans. Tetapi banyak suporter yang melempari dengan botol.

Ada salah satu aparat yang terpancing, dan mengambil botol kemudian melemparkannya ke penonton. Kali ini sih gue agak sedikit heran yak, ada orang sakit mau diselamatin kok malah dilempari pakai botol. Wajar sih kalau salah satu aparat tersebut terpancing emosinya.

Kesan yang gue dapat dari pengalaman gue tersebut adalah malu, bingung, kecewa, dan mungkin marah.

Gue malu kenapa gue diam aja saat kericuhan tersebut terjadi. Gue malu kenapa gue nggak jadi sok pahlawan buat nenangin situasi tersebut.

Gue bingung, kenapa dalam sepakbola harus ada kejadian seperti ini. Fanatisme yang berlebihan. Akibatnya bukan hanya ada korban, tetapi juga nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Gue kecewa kenapa kita tidak bisa menjadi tuan rumah yang bijak. Tuan rumah yang bisa mengasihi siapapun yang datang. Sekalipun dia musuh bebuyutan. Karena dalam ajaran agama gue diajarkan untuk mengasihi siapapun, sekalipun itu musuh. Oke, gue sadar, gue nggak ngerasain yang dirasakan para suporter fanatik seperti mereka. Gue ngerti hal itu. Tapi sekarang era modern, udah nggak zaman begituan. Ah sudahlah, gue nggak mau dicap sok bijak.

Tapi apapun itu, gue tetep cinta sama Indonesia, gimanapun kondisinya. Semoga kita bisa menjadi warga negara yang lebih baik lagi. Menjadi pribadi Indonesia yang sesuai dengan pedoman nilai-nilai Pancasila.

Mungkin artikel ini kedengerannya sok bijak. Tapi ya gimana, ini semua uneg-uneg yang ada di pikiran gue. Dan gue harap buat loe yang baca artikel ini bisa mengambil sisi positifnya saja. Semoga artikel gue kali ini bermanfaat. See you and keep thinking.

13 Komentar untuk "Dibikin Kecewa, Pengalaman Pertama Kali Nonton Timnas di GBK"

  1. Wahh ini yg kemaren ya.. Oh kerjanya PNS, wah enak ya hari tuanya dapet pensiun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya yang kemarin ricuh mas.
      Salah satu faktor yang buat aku jadi pns ya itu mas wkwkwk

      Hapus
  2. Saya juga kecewa akan hal itu, kenapa harus terjadi seperti itu. Kalau gini terus mau maju sepakbolanya gimana coba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah gan :( yang lain perkembangannya terus kelihatan, kita kok gini yak

      Hapus
  3. Aku jg ninton tuh di tv krn emg suka bola..awal" mah iya seru gitu.. Ampe teriak" lama" kesusul kucewa donkkk.. Ekspetasi ga swsuai... Lama" akhirnya liat pemain timnaa udh mulai loyo.. Masuk kamar dan bbo cantik aja... Gak tau kl ketinggalan 3-2..tau" besok pgi liat berita ribut antar suporter... Lahhh lagu lama kembali terulang... Pusinnngggg liatnya... Menang kalah udh biasa sih.. Tp kalo udh kalah ditambah ribut" kyk gini... Lama " ga ada yg nonton sepak bola nih

    BalasHapus
  4. Saya setuju banget kok mas. Baca ini pun saya jadi ikutan sedih. Malu juga iya, karena orang indonesia yang terkenal katanya ramah tamah bisa jadi kasar gini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah mbak. Sedih kalau terus2an kayak gini :(

      Hapus
  5. Nggak sanggup dibayangkan jika ada di GBK saat itu

    BalasHapus
  6. saya sselalu ga suka sama suporter bola Indonesia, anarkis banget. memang ga bisa dipukul rata sih, pasti penyebabnya karena oknum. Tapi gegara beberapa orang, citra suporter bola jadi buruk secara keseluruhan.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang. Kadang iri sama negara2 lain. Mereka bisa duduk tenang di stadion nggak ada rusuh2 . Kapan ya bisa gitu

      Hapus
  7. Ada yang terluka gak dalam kericuhan itu? Malu-maluin Indonesia saja.

    Btw, komen balik ya ke animangakun.blogspot.com

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel